Kamis, 25 Juni 2015

Sejarah tanah sunda

Nama: Dede Ridwanullah

NIM: 0401513004

Kebudayaan Indonesia

Goa Sancang

Jawa Barat merupakan provinsi terbesar di pulau jawa diantara kota-kotanya yaitu Bogor, Bandung, Bekasi, Sukabumi, Cianjur, Garut, Ciamis, Indramayu, Karawang, Kuningan, Majalengka, Purwakarta, Subang, Sumedang dan Tasikmalaya. Catatan sejarah yang tidak pernah luntur dan setiap masyarakat di wilayah Jawa Barat dapat mengetahuinya yaitu tentang kerjaan Siliwangi. Salah satu raja yang mempunyai kewibawaan tinggi, mahir berperang dan menguasa persenjataan yaitu Sri Baduga Maharaja atau Prabu. Mencari fakta tentang akhir dari perjalanan prabu siliwangi banyak pendapat yang berbeda-beda dari setiap wilayah masyarakat sunda.

Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi mengawali pemerintahan zaman Pasundan, yang memerintah selama 39 tahun (1482-1521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak      perkembangannya. Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua        kali, pertama ketika Jayadewata menerima tahta Kerajaan Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa     Niskala) yang kemudian bergelar Prabu Guru Dewapranata. Yang kedua ketika ia menerima          tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya, Susuktunggal. Dengan peristiwa ini, ia menjadi                   penguasa Kerajaan Sunda - Kerajaan Galuh dan dinobatkan dengan gelar Sri Baduga                   Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Jadi, untuk terakhir kalinya      selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang                berpindah tempat dari timur ke barat.

Di Jawa Barat, Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan           kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga                 mempunyai kekuasaan yang sama besarya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda). Menurut tradsi lama, orang tidak boleh               menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun memopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan              bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:

"Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira".

Artinya: Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya. Arti nama Siliwangi berasal dari kata "Silih" dan "Wewangi", artinya sebagai pengganti Prabu Wangi. Tentang hal      itu, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang.

                                   

 

Kerajaan Siliwangi yang terletak di Pajajaran merupakan kerajaan hindu terbesar di Jawa Barat. Belum ada data yang akurat siapa yang menjadi pendiri kerajaan ini yang pasti kerjaanya terletak di Kota Bogor. Dari beberapa raja yang pernah berkuasa yaitu adalah: Prabu Lingga Raja Kencana, Prabu Wastu Kencana, dan Prabu Siliwangi. Dari keempat raja tersebut yang paling dikenal oleh masyarakat sekarang adalah Prabu Siliwangi terkenal dengan keberanian dan kebijaksanaanya. Prabu Siliwangi mempunyai istri dengan nama Dewi Kumalawangi, dari rahim istrinya ini lahirlah tiga orang putra, yaitu: Raden Walangsungsang, Dewi Rarasantang dan Raden Kiansantang. Namun, dari hasil wawancara kepada salah satu pejuang Veteran yaitu bapak Hamami di wilayah Sukabumi menyebutkan bahawa Prabu siliwangi mempunyai dua anak laki-laki keduanya dihanyutkan di laut kearah barat dan kearah timur. Dalam isi pesan terakhir Prabu Siliwangi menjelang menghanyutkan dua anaknya yaitu semoga kedua anak ini dapat menguasai dunia suatu kelak nanti. Masih dalam tuturanya, anak laki-laki yang dihanyutkan ke arah timur laut adalah Raden Kiansantang dan dia besar di Timur Tengah menuntut Ilmu agama Islam sampai kembalinya ke tanah sunda. Anak laki-laki yang dihanyutkan kebarat laut tidak ada kelanjutan literatur yang menjelaskan hingga saat ini.  

 Raden Kiansantang lahir di Pajajaran tahun 1315. Dia adalah seorang pemuda yang sangat cakap. Tidaklah heran jika pada usianya yang masih muda Kiansantang diangkat menjadi Dalem Bogor kedua. Konon, raden Kiansantang juga sakti mandraguna. Tubuhnya kebal, tak bisa dilukai senjata jenis apapun. Auranya memancarkan wibawa seorang ksatria, dan sorot matanya menggetarkan hati lawan. Diriwayatkan, prabu Kiansantang telah menjelajahi seluruh tanah Pasundan. Tapi, seumur hidupnya dia belum pernah bertemu dengan orang yang mampu melukai tubuhnya. Padahal ia ingin sekali melihat darahnya sendiri. Maka pada suatu hari, dia memohon kepada ayahnya agar dicarikan lawan yang hebat.

Untuk memenuhi permintaan putranya, Prabu Siliwangi mengumpulkan para ahli nujum. Dia meminta bantuan pada mereka untuk menunjukkan siapa dan dimana orang sakti yang mampu mengalahkan putranya.

 Dalam sebuah sayambara datanglah seorang kakek-kakek yang bisa menunjukan orang yang selama ini dicari dapat mengalahkan kesaktian raden kian santang. Kakek tersebut mengatakan ada satu orang yang dapat mengalahkan radenK iansantang dan orang yang dicari berada ditanah suci Mekkah namnya yaitu Saidina Ali. Dalam tuturanya si kakek menyebutkan ada dua syarat yang harus dipenuhi pertama harus bersemedi di ujung kulon (jampang) dan mengganti nama menjadi Galantrang Setra. Peristiwa ini merupakan awal titik balik untuk mengislamkan kerajaan Siliwangi. Dua syarat yang telah disebutkan tadi tidaklah menjadi penghalang, setelah keduanya dilaksanakan Raden Kiansantang pun berangkat ke Mekkah namun sekali lagi hanya kesaktian masa lalu yang dapat menjawab menggunakan apa Raden Kiansantang berangkat ke Mekkah.

 Sesampainya di Arab Raden Kiansantang berpapasan dengan seorang laki-laki tidak muda lagi. “Anda kenal dengan Sayidina Ali?” Tanya Kiansantang laki-laki tersebut.

“Kenal sekali,” jawabnya.

“Kalau begitu bisakah kau antar aku kesana?”

“Bisa, asal kau mau mengambilkan tongkatku itu.”

Demi untuk bertemu dengan Ali, Kiansantang menurut untuk mengambil tongkat yang tertancap di pasir. Tapi betapa terkejutnya beliau ketika mencoba mencabut tongkat itu tak kuasa mengangkat mencabut dari pasir, bahkan meski beliau mengerahkan segala kesaktiannya dan pori-porinya keluar keringat darah.

Begitu mengetahui Kiansantang tak mampu mencabut tongkatnya, maka laki-laki itu pun menghampiri tongkatnya sambil membaca Bismillah tongkat itu dengan mudah bisa dicabut.

Kiansantang keheranan melihat orang itu dengan mudahnya mencabut tongkat tersebut sedang ia sendiri tak mampu mencabutnya.

“Mantra apa yang kau baca tadi hingga kau begitu mudah mencabut tongkat itu? Bisakah kau mengajarkan mantra itu kepadaku?”

“Tidak Bisa, karena kau bukan orang islam.”

Ketika ia terbengong dengan jawaban laki-laki itu, kebetulan ada seorang masyarakat arab lewat di depan mereka menyapa; “Assalamu’alaikum Sayidina Ali.”

Mendengar sapaan itulah kini ia tahu bahwa Sayidina Ali yang ia cari adalah orang yang sedari tadi bersamanya. Begitu menyadari ini maka keinginan Kiansantang untuk mengadu kesaktian musnah seketika. “Bagaimana mungkin aku mampu mengalahkannya sedang mengangkat tongkatnya pun aku tak mampu,” pikirnya.

Singkat cerita dari peristiwa tersebut akhirnya Kiansantang masuk agama islam. Dan setelah beberapa bulan belajar agama islam ia berniat untuk kembali ke Pajajaran guna membujuk ayahnya untuk juga ikut memeluk agama islam.

Sesampainya di Pajajaran, dia segera menghadap ayahandanya. Dia ceritakan pengalamannya di tanah Mekkah dari mulai bertemu Sayidina Ali hingga masuk islam. Karena itu ia berharap ayahandanya masuk islam juga. Tapi sayangnya ajakan Kiansantang ini tak disambut baik dan ayahandanya bersikeras untuk tetap memeluk agama Hindu yang sejak lahir dianutnya. Betapa kecewanya Kiansantang begitu mendengar jawaban ayahandanya yang menolak mengikuti ajakannya. Untuk itu beliau memutuskan kembali ke Mekkah demi memperdalam agama islamnya dengan satu harapan seiring makin pintarnya beliau berdakwah mungkin ayahnya akan terbujuk masuk islam juga. Setelah 7 tahun bermukin di Mekkah, Kiansantang pun kembali lagi ke Pajajaran untuk mencoba mengislamkan ayahandanya. Mendengar Kiansantang kembali Prabu Siliwangi yang tetap pada pendiriannya untuk tetap memeluk agama Hindu itu tentu saja merasa gusar. Maka dari itu, ketika Kiansantang sedang dalam perjalanan menuju istana, dengan kesaktiannya prabu Siliwangi menyulap keraton Pajajaran menjadi hutan rimba.

Sebagian opini mengatakan dari hasil wawancara masih dengan salah satu mantan tokoh veteran mengatakan. “Bahwa sekembalinya Raden Kiansantang dari Mekkah beliau mengajak kembali Ayahandanya Prabu Siliwangi untuk memeluk agama Islam dan meminta agar ayahandanya mau untuk di khitan. Pendirian Prabu Siliwangi tidak goyah tetap pada kepercayaan agama Hindu hingga keduanya terjadi saling kerjar mengejar di gunung salak. Ketika Prabu Siliwangi bersembunyi di dalam Goa tertinggi dipuncak gunung tersebut, maka kiansantang dengan kesaktianya menutupi Goa tersebut hingga sekarang. Terkadang banyak berkembang mitos dikalangan masyarakat bahwa Prabu Siliwangi masih hidup hingga sekarang menjelema menjadi Siluman”.

Bukan main kagetnya Kiansantang setelah sampai di wilayah  Pajajaran tidak melihat Keraton/ Kerjaan Siliwangi dan yang terlihat malah hutan belantara, padahal dia yakin dan tidak mungkin keliru, disanalah kerajaan Siliwangi berdiri.

Dan akhirnya setelah mencari kesana kemari beliau menemukan ayahandanya dan para pengawalnya keluar dari hutan. Dengan segala hormat, dia bertanya pada ayahandanya, “Wahai ayahanda, mengapa ayahanda tinggal di hutan? Padahal ayahanda seorang raja. Apakah pantas seorang raja tinggal di hutan? Lebih baik kita kembali ke keraton. Ananda ingin ayahanda memeluk agama islam.”

Prabu Siliwangi tidak menjawab pertanyaan putranya, malah ia balik bertanya, “Wahai ananda, lantas apa yang pantas tinggal di hutan?”

“Yang pantas tinggal di hutan adalah harimau.” Jawab Kiansantang

Konon, tiba-tiba prabu Siliwangi beserta pengikutnya berubah wujud menjadi harimau. Kiansantang menyesali dirinya telah mengucapkan kata harimau hingga ayahanda dan pengikutnya berubah wujud menjadi harimau. Maka dari itu, meski telah berubah menjadi harimau, namun Kiansantang masih saja terus membujuk mereka untuk memeluk agama islam.

Namun rupanya harimau-harimau itu tidak mau menghiraukan ajakannya. Mereka lari ke daerah selatan, yang kini masuk wilayah Garut. Kiansantang berusaha mengejarnya dan menghadang lari mereka. Dia ingin sekali lagi membujuk mereka. Sayang usahanya gagal. Mereka tak mau lagi diajak bicara dan masuk ke dalam goa yang kini terkenal dengan nama Goa Sancang, yang terletak di Leuweung Sancang, di kabupaten Garut.

 Melihat banyaknya cerita dari mulut kemulut yang berkembang serta peninggalan sejarah artepak yang ada hingga sekarang. Membuktikan, bahwa banyak nilai-nilai yang dapat kita ambil. Para penguasa terdahulu khususnya Prabu Siliwangi mengajarkan agar kebijakan sosial harta kekayaan tatar sunda (dewan-dewan kerajaan) dapat merata hingga masyarakat, tidak ingin wilayah mereka dijajah oleh bangsa asing sehingga dikenal dengan keberanianya. Nilai ini sangat bertolak belakang dengan para pemimpin sekarang. Dalam aspek Agama dimanapun Islam Hadir selalu membawa rahmat, Islam berkembang bukan melalui pedang, melaikan Islam hadir membawa peradaban dan pencerahan yang dapat diterima oleh masyarakat. Kearipan lokal yang masih berkembang hingga sekarang, meilhat dari cerita tersebut bahwa ilmu Islam yang berada diluar nalar pikiran manusia masih sangat berkembang hingga sekarang bahkan perpaduan tradisi mengunakan mantra BuHun dengan lafadz-lafadz yang di ajarkan di Islam masih disatu padukan. Menurut orang tua terdahulu bangsa Belanda sangat takut dengan wilayah Jawa karena kesaktianya. Dengan membacakan bismilah saja orang-orang terdahulu bisa terbang. Tetapi hal tersebut sangat memungkinkan karena faktor lingkungan dan keadaan. Pelajaran dan nilai terakhir yang dapat diambil datangnya kebenaran tidak selamanya dapat diterima, ketika hidayah belum dapat dikendaki mereka tidak dapat masuk agama Islam hal layaknya Prabu Siliwangi ayahanda Kiansantang Abu Lahab dan Abu Thalib Paman dari Rasulullah.